Kampret, Menjadi Jutawan Setelah Terpuruk Diterjang Erupsi

KEDIRI – Tingginya harga cabai beberapa waktu lalu banyak membawa keberkahan bagi para petani cabe khususnya. Salah satunya ialah Mas Kampret (44 th) petani cabe di lereng Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur yang kebanjiran rezeki dibalik meroketnya harga cabe. Pada musim panen kali ini Mas Kampret bisa meraup keuntungan mencapai Rp 100 juta lebih.

Mujiat adalah nama asli Mas Kampret. Karena saat muda tidak tumbuh sebagaimana teman seusianya, warga sekampung menjulukinya dengan nama Kampret. Meski bertubuh kecil namun Mas Kampret dikenal cekatan dan lincah. Sebelum menjadi petani cabe, Mas Kampret pernah mengalami masa kejayaan menjadi pemborong tebu hingga memiliki banyak anak buah. Namun ternyata kesuksesannya tak berlangsung lama dan usahanya pun bangkrut akibat lahan tebu yang sudah diborong dan siap panen hancur karena erupsi gunung Kelud. Karena harus tetap membayar gaji para karyawannya, akhirnya Mas Kampret terpaksa meminjam uang dengan rentenir.

Berurusan dengan riba ternyata tidak menyelesaikan masalah hidupnya. Masalah baru pun terus bermunculan. “Rasanya waktu itu hidup kaya gak berkah, ada aja masalah yang datang dan pergi”, kata Mas Kampret. Ia juga mengaku sering didatangi debt collector berbadan tegap yang menagih langsung ke rumah dengan cara-cara yang kasar.

Sejak saat itulah Kampret mengaku benar-benar kapok bersentuhan dengan riba. Ia menyaksikan langsung kebenaran firman Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Al-Baqarah : 276) yang berbunyi “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. Motor dan barang berharga milik Mas Kampret harus ia relakan diangkut oleh debt collector.

Pasca erupsi Gunung Kelud tahun 2014 lalu Mas Kampret beralih menjadi petani cabe. Ia juga mengabdikan dirinya untuk menjadi pengurus di KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Lamor Kelud Sejahtera yang dibentuk oleh LAZ Al Azhar dalam program Sejuta Berdaya, untuk membina dan memberdayakan para petani di Dusun Laharpang dan Dusun Sukomoro Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kediri, Jawa Timur.

Di KSM ini, Mas Kampret bersama 82 anggota lainnya tak hanya sekedar mendapat pinjaman modal usaha tanpa riba tetapi juga dibekali ilmu agama tentang bahaya riba dan cara menjadi petani yang baik sesuai ajaran agama. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan dalam bertani juga ia dapatkan melalui pelatihan-pelatihan dan bimbingan langsung dari Dasamas (Da’i Sahabat Masyarakat) yang ditempatkan LAZ Al Azhar di desa binaan.

Kini, setelah berkomitmen penuh untuk meninggalkan riba dan mengabdikan dirinya menjadi relawan dan pengurus KSM, perjuangan Mas Kampret diganti oleh Allah dengan tanaman cabe yang tumbuh subur dengan harga yang membuatnya tersenyum. Saat ini ia sudah memasuki panen di masa petik ke-5 dan menghasilkan 55 kg cabe dijual dengan harga Rp 80 juta. Menurutnya masa puncak panen cabe ada pada saat petikan ke 10 – 15 dan hasilnya diperkiran mencapai lebih dari 1,5 kwintal. Mas Kampret pun sekarang merasa sangat bersyukur dengan keberkahan yang ia rasakan setelah terbebas dari riba dan menjadi pengurus sekaligus anggota KSM.

Sejuta Berdaya adalah program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dijalankan LAZ Al Azhar dengan memanfaatkan dana kebajikan (qardhul hasan) dan dana-dana sosial lain seperti zakat dan CSR dari lembaga keuangan syariah. Melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis kelompok ini, sudah ada 983 keluarga dari 20 KSM  yang tersebar di 12 kota/kabupaten di Indonesia telah merasakan berkahnya merdeka dari riba.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *